Kupu-kupu aneka warna yang menghiasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), saat ini terancam punah.

Pembaruan/M Kiblat Said

PENANGKARAN – Siklus hidup kupu-kupu tidak hanya terjadi di habitatnya, tetapi juga dilakukan melalui teknik penangkaran.

Dari 300 spesies kupu-kupu yang pernah ada, atau sekitar 10,8 persen dari jumlah spesies kupu-kupu di Indonesia, kini yang tersisa tinggal 108 spesies.

Kupu-kupu Bantimurung sejak lama sudah dikenal luas wisatawan. Mereka yang berkunjung ke Sulsel selalu ingin menyaksikan apakah Bantimurung yang dahulu dijuluki “Kingdom of The Butterfly” oleh biolog naturalis Inggris Alfred Russel Wallacea (1823-1913), benar-benar masih lestari.

Kelangkaan spesies kupu-kupu yang terjadi di Bantimurung diungkapkan Sri Nur Aminah Ngatimin SP MSi, pengamat dari Laboratorium Bioteknologi Pertanian Pusat Kegiatan Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun. Menurutnya, kondisi kekhasan kupu-kupu Bantimurung semakin memprihatinkan lantaran beberapa spesies sudah tidak tampak lagi.

Ternyata, selama ini kupu-kupu tidak hanya elok dipandang di alam terbuka, tetapi dia telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Kupu-kupu ditangkap, diawetkan, lalu dijual untuk cendera mata kepada para wisatawan. Harga kupu-kupu yang telah diawetkan rata-rata Rp 10.000 per ekor tergantung jenis dan coraknya.

Permintaan cendera mata kupu-kupu yang cukup banyak membuat maraknya usaha penangkapan dan perdagangan liar oleh masyarakat di sekitar Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Kondisi itu diperburuk oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan. Kini, beberapa spesies kupu-kupu langka sangat sukar dijumpai.

Sangat sedikit orang yang peduli akan kelestarian serangga penari tersebut. Padahal, potensi kupu-kupu di objek wisata alam yang terletak sekitar 45 kilometer dari Makassar itu selama ini menjadi kebanggaan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan, dari sekitar 2.500 jenis kupu-kupu yang tersebar di seluruh kepulauan Nusantara, spesies terbanyak terdapat di Sulsel.

Ada 20 spesies kupu-kupu dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 7/1999, lima spesies di antaranya terdapat di Sulsel yaitu Troides helena Linne, Troides hypolitus Cramer, Troides haliphron Boisduval, Papilo adamantius, dan Cethosia myrana.

Namun, menurut Sri Nur Aminah, kemunculan tiap jenis kupu-kupu itu tergantung pada musim dan tidak dapat dijumpai setiap saat.

Punahnya Pakan

Penelitian yang dilakukan oleh Mappatoba Sila dari Unhas tahun 1998 melaporkan bahwa tidak hanya kupu-kupu saja yang berkurang dari tahun ketahun, melainkan jenis tanaman pakannya sudah berada di ambang kepunahan.

Pakan yang digemari kupu-kupu di antaranya Aristolocia togala, sumber makanan bagi ulat kupu-kupu jenis Troides helena,Troides haliphron, dan Troides hypolitus.

Jenis tanaman sangilu (Rutaceae) makanan ulat kupu-kupu Papoli adamantius, dan tanaman Passiflora sp menjadi makanan kupu-kupu Cethosia myrana. Sedangkan kupu-kupu dewasa biasa mengisap cairan nektar kembang sepatu (Hibiscus rosa-chinensis).

Beberapa jenis tanaman yang digemari kupu-kupu yaitu Lontara sp, Ficus, Annona muricata, Annona squoma, semakin sulit ditemukan di kawasan tersebut sejak lokasi di sekitarnya ramai dijamah manusia dan berubah menjadi lahan perkebunan yang mengancam keberadaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Dulunya Bantimurung ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 237/Kpts/ Um/III/1981 tertanggal 30 Maret 1981 dengan luas sekitar118 hektare (ha).

Secara administratif pemerintahan, kawasan tersebut terletak di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Namun, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 398/Menhut-II/2004, kawasan yang membentang dari Kabupaten Maros hingga Kabupaten Pangkep dengan luas 43.750 ha itu ditetapkan menjadi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, terdiri dari taman wisata alam, hutan produksi terbatas, cagar alam, hutan lindung, dan suaka margasatwa.

Secara teknis, pengelolaannya ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulsel I yang berkedudukan di Makassar.

Penangkaran

Sejak ditetapkan sebagai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, kegiatan awal yang dilakukan adalah konservasi dan pengembangan kupu-kupu melalui usaha penangkaran.

Masyarakat pelestari kupu-kupu dibina oleh BKSDA Sulsel I. Mereka berusaha menyelamatkan berbagai jenis kupu-kupu endemik Sulsel, seperti yang dilakukan H Beddu Daeng Rewa dan belasan penangkar lainnya di kawasan tersebut.

Kegiatan penangkaran di luar habitat (ex situ) dilakukan dengan pertimbangan pemilihan jenis yang tepat, yaitu yang secara alami populasinya menurun tajam dari waktu ke waktu, melaksanakan restocking atau pemulihan populasi di alam dengan melepas sebagian hasil penangkaran ke alam dan sebagian lagi dijadikan sumber pendapatan para penangkar.

Meskipun ada upaya penangkaran, dibutuhkan keikutsertaan masyarakat untuk mencegah punahnya jenis kupu-kupu langka. Selain melalui upaya sosialisasi teknik penangkaran, langkah yang tak kalah penting adalah menanam kembali jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan ulat kupu-kupu serta mencegah terjadinya kebakaran hutan.